Dari Krisis Menjadi Berkah, Rektor Unila Bagikan Arsitektur Manajemen Reputasi Kampus di Forum Kehumasan Nasional

oleh -1,775 views

Bandar Lampung,- Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., merefleksikan bahwa krisis yang menimpa perguruan tinggi tidak melulu berujung pada kejatuhan reputasi. Jika dikelola dengan ketahanan sistem, keterbukaan, dan tata kelola yang adaptif (Good University Governance), krisis justru dapat ditransformasikan menjadi momentum lompatan kualitas dan pemulihan kepercayaan publik secara signifikan.

Pernyataan tersebut mengemuka saat Prof. Lusmeilia memaparkan pandangannya dalam Insight Session Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Komunikasi Strategis, sebuah forum kolaboratif HUMAS INDONESIA dan Kemdiktisaintek, di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

Acara bertajuk “Manajemen Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital” ini dibuka oleh CEO HUMAS INDONESIA Asmono Wikan serta menghadirkan Kepala Biro Umum, Humas, dan PBJ Kemdiktisaintek Manifes Zubair, bersama sejumlah pimpinan perguruan tinggi terkemuka tanah air seperti UGM, ITB, IPB, dan Undip.

Dalam sambutan pembukanya, Asmono Wikan menyoroti rekam jejak Unila dalam menghadapi badai komunikasi beberapa tahun lalu. Menurutnya, pengalaman Unila merupakan studi kasus bernilai tinggi bagi ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia.

“Krisis itu tidak selamanya buruk. Ada kemampuan untuk membalikkan krisis menjadi berkah. Kita tahu perjalanan Unila mengelola komunikasi krisis Rektor tidaklah mudah, namun Unila membuktikan mampu bangkit dan memiliki nilai lebih tinggi berkat kepemimpinan yang terbuka dan tata kelola humas yang matang,” ujar Asmono.

Empat Pilar Arsitektur Manajemen Krisis Unila

Memaparkan materi bertajuk “Navigasi Reputasi di Era Disrupsi Informasi: Arsitektur Manajemen Krisis Universitas Lampung”, Prof. Lusmeilia Afriani mengungkapkan bahwa di era digital, isu internal kampus dapat bertransformasi menjadi krisis nasional hanya dalam hitungan jam.

Sebagai institusi berbasis nilai (value-based institution), perguruan tinggi dituntut untuk cermat menyeimbangkan antara kebutuhan respons cepat di era media sosial dengan prinsip verifikasi akademik yang akurat. Menjawab tantangan disrupsi tersebut, Unila memformulasikan empat pilar utama manajemen reputasi.

Pendekatan ini meletakkan perguruan tinggi sebagai penjaga moral sekaligus wajah intelektual bangsa melalui penguatan integritas, pemikiran kritis, dan kepemimpinan yang memberi teladan (leading by example).

Karakter tersebut kemudian ditopang oleh pelembagaan komunikasi krisis berbasis Good University Governance (GUG) yang mewujud dalam prosedur operasional standar (SOP), mekanisme mitigasi risiko, serta keterbukaan informasi berbasis data terverifikasi.

Lebih jauh, Unila menempatkan reputasi sebagai aset strategis yang dijaga lewat kemitraan proaktif bersama pemangku kepentingan (stakeholders) dan komunikasi preventif sebelum sebuah isu membesar.

Seluruh fondasi ini berujung pada penyampaian komunikasi publik yang efektif dan empatis, yakni dengan memadukan pendengaran aktif (active listening), strategi multi-kanal, serta penyampaian narasi yang senantiasa berpijak pada capaian riil institusi.

“Fungsi kehumasan di perguruan tinggi masa kini tidak lagi sekadar menjadi pemadam kebakaran atau pembuat siaran pers belaka, melainkan garda terdepan penentu reputasi dan keberlanjutan organisasi. Kami di Unila belajar bahwa ketahanan reputasi hanya bisa berdiri kokoh di atas fondasi akuntabilitas dan transparansi,” tegas Prof. Lusmeilia.

Transformasi tata kelola dan komunikasi Unila ini terbukti membuahkan hasil. Dalam kurun waktu 2022–2025, Unila secara konsisten memboyong belasan penghargaan bergengsi dalam Anugerah Humas Diktisaintek (AHD) Kemdiktisaintek, dan Anugerah Media Humas (AMH) Kemkomdigi, mulai dari Gold Winner Kategori Siaran Pers, Majalah, Laman, hingga Media Sosial.

Sinergi Tahapan Komunikasi Krisis

Sejalan dengan pandangan Rektor Unila, Kepala Biro Umum, Humas, dan PBJ Kemdiktisaintek, Manifes Zubair, turut menjabarkan lima tahapan standar pengelolaan komunikasi krisis yang wajib diadaptasi perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia.

Proses ini diawali dari penetapan strategi krisis oleh pimpinan melalui penunjukan juru bicara serta tim respons cepat, yang kemudian dilanjutkan dengan pemetaan isu, analisis risiko, dan penentuan pesan utama.

Pada tahap berikutnya, institusi menyusun rencana respons serta menguatkan koordinasi internal sebelum melangkah ke proses pengumpulan, verifikasi data, dan formulasi narasi yang akurat.

Alur sistematis ini memuncak pada penyampaian rekomendasi strategis sebagai dasar pengambilan keputusan komunikasi publik yang tepat dan terukur. Keseluruhan perumusan dan pertukaran gagasan dalam acara ini diarahkan untuk memberi dampak nyata bagi ekosistem pendidikan tinggi.

Forum yang diikuti 150 pimpinan dan praktisi kehumasan perguruan tinggi se-Indonesia tersebut ditargetkan mampu melahirkan Whitepaper Peta Jalan Komunikasi Krisis Perguruan Tinggi Nasional sebagai panduan standar mitigasi krisis di era digital.

Melalui kontribusi aktif dalam perhelatan nasional ini, Unila memperkuat pijakannya menuju Visi Unila 2045 sebagai perguruan tinggi berkelas dunia yang unggul dan berkelanjutan (World Class University) dengan landasan tata kelola BE STRONG.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *