Pringsewu,- Sepekan setelah digelar, prosesi Suran dan Jamasan Pusaka Nusantara yang berlangsung Minggu 28 Juni 2026 lalu di Sukoharjo III masih jadi perbincangan warga. Ajang Perdana yang digelar secara terbuka yang diinisiasi Paguyuban Pelestari Tosan Aji Panji Sewu Provinsi Lampung ini disebut berhasil mengubah pandangan masyarakat.

Saat dikonfirmasi melalui telpon pribadinya, Rabu (01/07) Ketua Pelaksana Suran dan Jamasan Pusaka Nusantara, mbah Suyono Candra, menyampaikan kesan dan pesan pasca terlaksananya acara tersebut.
“Kesannya pertama, masyarakat lingkungan Sukoharjo jadi sangat paham. Yang katanya benda pusaka itu menakutkan, kemarin banyak yang lihat langsung dari pinggir jalan raya. Akhirnya mereka sadar, ternyata pusaka itu perlu perawatan khusus. Bukan perawatan mistik, tapi supaya tidak termakan karat dan bisa bertahan lama,” ujar mbah Suyono.
Acara bertema ‘Generasi Muda Lestarikan Budaya Bangsa’ itu berjalan lancar dan mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Lampung serta Pemerintah Kabupaten Pringsewu.
Kegiatan ini juga dihadiri jajaran inti Paguyuban, yaitu Ketua Provinsi Dony Estavianto, Sekertaris, Bendahara, Anggota Panji Sewu dan Kasepuhan Provinsi Mbah Suparman Kinowo.
Sebanyak 50 pusaka dari berbagai daerah dijamaskan dalam acara tersebut. Di antaranya ikon Paguyuban Panji Sewu, keris betok Sigar Jantung dari Jawa sekitar 30 Pusaka, keris khas Lampung, dan Mandau dari Kalimantan.
Melalui jamasan ini, Mbah Suyono menitipkan pesan untuk masyarakat Indonesia.
“Intinya kita harus betul-betul menghargai warisan leluhur dan sang Empu pembuat pusaka. Dengan mencintai budaya, kita otomatis mencintai nenek moyang kita, mbah, buyut sampai ke canggah. Bagi yang punya pusaka, rawatlah. Karena peninggalan leluhur itu mengandung sejarah yang sangat bagus dan positif,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah daerah memberi perhatian khusus ke paguyuban budaya.
“Di sini terbentuk ajang silaturahmi yang kental. Itu bisa mengurangi gesekan antar suku, ras, dan agama karena semua berkumpul dan berbagi rasa. Hubungan emosional jadi semakin harmonis. Kalau ada gesekan, para sesepuh adat akan cepat melerai dan menetralisir,” tutup Mbah Suyono. (Rls)







